Judul di atas mungkin agak menyerderhanakan persoalan yang, siapa pun tahu, sangat kompleks. Mungkinkah perspektif atau pendekatan ilmu sosial diberi label "nasional" seperti ini, sehingga ada, misalnya, dekonstruksi "Perancis", interpretivisme "Amerika", atau seperti yang saya tulis di atas, analisis "Jerman"? Atau kah perbedaan itu hanya masalah gerak perkembangan ilmu sosial yang berbeda di masing-masing tempat, sebuah proses yang oleh Johannes Fabian dinamakan "coeval time"? Kalau hal terakhir ini yang kita terima, maka penjelasan bahwa di Indonesia tidak ada "konstruksionisme Indonesia", misalnya, adalah penjelasan yang bersifat historis. Indonesia berada pada "ruang waktu paskakolonial" yang sama dengan, misalnya, India, Senegal, Malaysia, Afrika Selatan, dsb, yaitu negara-negara bekas koloni yang secara bersamaan diletakkan pada titik terujung ruang pengetahuan kolonial. Tetapi, pengalaman saya selama setahun ini bekerja di Max Planck Institute, sebuah lembaga penelitian paling bergengsi di Jerman, menggugah keingintahuan saya lebih jauh. Benarkah pernyataan kaum paskastruktural di Amerika dan Perancis bahwa "tradisi" -- termasuk di dalamnya "tradisi" pemikiran -- itu sebenarnya tak pernah ada? Kalau pernyataan mereka itu benar, mengapa pandangan atau perspektif paskastruktural sulit sekali diterima dan berkembang di Jerman [dan, surprisingly, lebih mudah di Belanda]? Pandangan yang mengatakan bahwa tradisi ilmu sosial Jerman lebih konservatif sebenarnya terlalu menyerderhanakan persoalan. Jawaban ini tidak bisa menjelaskan kenapa konservatisme -- apabila terminologi ini dipakai -- itu sampai berurat-berakar dalam dunia pemikiran sosial di Jerman, lebih khusus lagi di lembaga akademik. Perspektif "Jerman" tampaknya dibangun dari pentingnya kategorisasi dalam diskursus ilmu sosial. Ada kategori yang disebut "analitis" dan "empiris", "penjelasan (explanation)" dan "interpretasi", "normatif" dan "praktikal"... ada juga kategori yang dibangun dari tingkatan generalisasi yang dibangun dalam penjelasan sosial. Saya cenderung membaca ini sebagai warisan dari tradisi pemikiran Weberian, yang tampaknya menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa di Jerman.. Any thought, folks?
| |
|