Hari ini Max Planck Institute kedatangan seorang tamu, antropolog dari University of Chicago. Namanya Adam T. Smith (tak tahu apa ada hubungannya dengan Adam Smith, Bapak Ekonomi itu..:)), usianya mungkin sekitar awal 50 atau akhir 40. Ia bukan antropolog sosial, melainkan arkeolog yang telah banyak melakukan penelitian di beberapa negara bekas Uni Soviet, terutama di Armenia dan Georgia. Di depan peserta ceramah yang berjumlah sekitar 40an peneliti Max Planck, Adam Smith menguraikan penelitian ia tentang politik nasionalisme paska Soviet di Armenia yang memanfaatkan narasi representasi situs-situs arkeologi.
Smith menjabarkan ceramah dia dengan sangat menarik, dibantu dengan serangkaian slide yang memperlihatkan berbagai situs arkeologi, yang kemudian dipakai dalam konstruksi narasi identitas ke-Armenia-an. Tapi saya ingin bicara soal lain, bukan tentang materi ceramah Smith yang menggelitik itu. Adam Smith adalah tamu kedua dalam beberapa minggu terakhir ini yang tampaknya telah menggugah kegelisahan intelektual antropolog di Max Planck. Tamu sebelumnya adalah Alban Bensa, dia Direktur Penelitian di EHESS, Perancis. Bensa menggugat kegunaan konsep "kebudayaan" (culture) dalam penjelasan antropologis.
Sebagai antropolog yang dibesarkan dan dididik dalam tradisi antropologi Amerika, saya sangat menikmati ceramah Smith dan Bensa. Keduanya mewakili corak pemikiran yang sering disebut sebagai antropologi kritis (critical anthropology), yang berkembang di Amerika, dengan penekanannya pada aspek representasi, pragmatisme sosial, dan konstruksi budaya. Tetapi, tradisi antropologi Jerman kelihatannya agak kagok dengan corak pemikiran semacam itu, yang tidak terlalu mementingkan perbedaan antara kategori empiris dan kategori analitik dalam penjelasan teoritis. Seperti tercermin dalam perdebatan selama diskusi, antropologi Jerman -- yang lebih sering disebut "etnologi" daripada "antropologi" -- lebih mementingkan fakta sosial daripada representasi ataupun konstruksi fakta itu sendiri. Ini barangkali warisan Max Weber dalam tradisi ilmu sosial Jerman. Bagi Weber, tugas analis sosial adalah menjelaskan bentuk fakta sosial, bukan bagaimana proses terbentuknya fakta sosial itu, seperti yang sering ditonjolkan dalam pandangan antropologi kritis. Saya tidak mengatakan pandangan mana yang lebih baik. Lain ladang lain belalang. Kebetulan saja saya lebih dapat menikmati ceramah Smith dan Bensa dibandingkan dengan teman-teman antropolog yang dibesarkan dalam tradisi pemikiran ilmu sosial Jerman.