Ada satu catatan kecil yang tertinggal dari perjalanan aku ke Praha baru-baru ini. Banyak orang tahu bahwa Praha adalah kota yang indah, dengan arsitektur gaya Baroque dan Gothic yang tersebar di seluruh penjuru kota. Tapi barangkali tak banyak yang memperhatikan bahwa mitos dan cerita hantu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kota ini. Hampir setiap patung, gedung, monumen, ruas jalan, dan jembatan, memiliki mitos tersendiri. Sebagai sebuah cerita, mitos-mitos itu biasa-biasa saja. Hampir di setiap kota di seluruh penjuru dunia, pasti ada bagian kota yang memiliki mitos dan legenda. Tetapi di Praha, mitos dan legenda ini menjadi sangat menarik bila dilihat dari sudut pandang folklore. Tampaknya saat komunisme berkuasa di Ceko, tak ada usaha keras dari rejim komunis untuk menghilangkan cerita-cerita mitos dan legenda ini. Rejim komunis mungkin sadar bahwa mitos dan legenda bisa dimanfaatkan sebagai alat politik, menyebarkan ketakutan dan menawarkan "penjelasan" bila sesuatu terjadi. Misalnya, seseorang bisa tiba-tiba saja "dihilangkan", dan oleh rejim komunisme kejadian ini bisa "dirasionalisasikan" sebagai buah kerja para hantu yang rajin menelusuri jalan-jalan di kota Praha. Sebagai sebuah kajian folklore, akan menarik untuk melakukan perbandingan dengan situasi di kota-kota negara lain yang pernah mengalami rejim komunisme. Jangan remehkan mitos dan legenda, mereka ini bisa menjadi alat politik yang sangat ampuh!
America.. what happens with you? Hari ini terjadi lagi kasus penembakan di kampus, kali ini lokasi kejadiannya di Northern Illinois University. Tragis! Kali ini saya merasa memiliki kaitan yang erat dengan kejadian ini. Kampus NIU adalah tempat belajar banyak mahasiswa Indonesia and memiliki program kajian Indonesia yang lumayan bagus. Di sana pula teman-teman saya belajar. Mudah-mudahan mereka tak ada yg terkena dampaknya. Sampai saya tulis blog ini, identitas penembak dan alasan penembakan masih belum jelas. Yang sudah dilaporkan bahwa penembak kemungkinan adalah anak muda kulit putih, berusia 18-20 tahun-an. Memang agak susah menduga motif di balik penembakan ini. Kampus NIU bukan kampus yang terletak di dekat daerah "berbahaya". Kota De Kalb sendiri terletak di tengah ladang jagung sepi, beberapa ratus kilometer sebelah selatan Chicago. Saat saya beberapa kali mengunjungi De Kalb, tak ada satu pun tanda yang dapat menunjukkan potensi kekerasan. Kota ini sepi, dan penduduk De Kalb hampir separuhnya adalah mahasiswa. So, what has happened? P.S. Teman-teman di De Kalb, kalau kalian baca blog ini, please let me know apakah kalian berada dalam keadaan baik-baik..
Judul di atas mungkin agak menyerderhanakan persoalan yang, siapa pun tahu, sangat kompleks. Mungkinkah perspektif atau pendekatan ilmu sosial diberi label "nasional" seperti ini, sehingga ada, misalnya, dekonstruksi "Perancis", interpretivisme "Amerika", atau seperti yang saya tulis di atas, analisis "Jerman"? Atau kah perbedaan itu hanya masalah gerak perkembangan ilmu sosial yang berbeda di masing-masing tempat, sebuah proses yang oleh Johannes Fabian dinamakan "coeval time"? Kalau hal terakhir ini yang kita terima, maka penjelasan bahwa di Indonesia tidak ada "konstruksionisme Indonesia", misalnya, adalah penjelasan yang bersifat historis. Indonesia berada pada "ruang waktu paskakolonial" yang sama dengan, misalnya, India, Senegal, Malaysia, Afrika Selatan, dsb, yaitu negara-negara bekas koloni yang secara bersamaan diletakkan pada titik terujung ruang pengetahuan kolonial. Tetapi, pengalaman saya selama setahun ini bekerja di Max Planck Institute, sebuah lembaga penelitian paling bergengsi di Jerman, menggugah keingintahuan saya lebih jauh. Benarkah pernyataan kaum paskastruktural di Amerika dan Perancis bahwa "tradisi" -- termasuk di dalamnya "tradisi" pemikiran -- itu sebenarnya tak pernah ada? Kalau pernyataan mereka itu benar, mengapa pandangan atau perspektif paskastruktural sulit sekali diterima dan berkembang di Jerman [dan, surprisingly, lebih mudah di Belanda]? Pandangan yang mengatakan bahwa tradisi ilmu sosial Jerman lebih konservatif sebenarnya terlalu menyerderhanakan persoalan. Jawaban ini tidak bisa menjelaskan kenapa konservatisme -- apabila terminologi ini dipakai -- itu sampai berurat-berakar dalam dunia pemikiran sosial di Jerman, lebih khusus lagi di lembaga akademik. Perspektif "Jerman" tampaknya dibangun dari pentingnya kategorisasi dalam diskursus ilmu sosial. Ada kategori yang disebut "analitis" dan "empiris", "penjelasan (explanation)" dan "interpretasi", "normatif" dan "praktikal"... ada juga kategori yang dibangun dari tingkatan generalisasi yang dibangun dalam penjelasan sosial. Saya cenderung membaca ini sebagai warisan dari tradisi pemikiran Weberian, yang tampaknya menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa di Jerman.. Any thought, folks?
Hari ini Max Planck Institute kedatangan seorang tamu, antropolog dari University of Chicago. Namanya Adam T. Smith (tak tahu apa ada hubungannya dengan Adam Smith, Bapak Ekonomi itu..:)), usianya mungkin sekitar awal 50 atau akhir 40. Ia bukan antropolog sosial, melainkan arkeolog yang telah banyak melakukan penelitian di beberapa negara bekas Uni Soviet, terutama di Armenia dan Georgia. Di depan peserta ceramah yang berjumlah sekitar 40an peneliti Max Planck, Adam Smith menguraikan penelitian ia tentang politik nasionalisme paska Soviet di Armenia yang memanfaatkan narasi representasi situs-situs arkeologi. Smith menjabarkan ceramah dia dengan sangat menarik, dibantu dengan serangkaian slide yang memperlihatkan berbagai situs arkeologi, yang kemudian dipakai dalam konstruksi narasi identitas ke-Armenia-an. Tapi saya ingin bicara soal lain, bukan tentang materi ceramah Smith yang menggelitik itu. Adam Smith adalah tamu kedua dalam beberapa minggu terakhir ini yang tampaknya telah menggugah kegelisahan intelektual antropolog di Max Planck. Tamu sebelumnya adalah Alban Bensa, dia Direktur Penelitian di EHESS, Perancis. Bensa menggugat kegunaan konsep "kebudayaan" (culture) dalam penjelasan antropologis. Sebagai antropolog yang dibesarkan dan dididik dalam tradisi antropologi Amerika, saya sangat menikmati ceramah Smith dan Bensa. Keduanya mewakili corak pemikiran yang sering disebut sebagai antropologi kritis (critical anthropology), yang berkembang di Amerika, dengan penekanannya pada aspek representasi, pragmatisme sosial, dan konstruksi budaya. Tetapi, tradisi antropologi Jerman kelihatannya agak kagok dengan corak pemikiran semacam itu, yang tidak terlalu mementingkan perbedaan antara kategori empiris dan kategori analitik dalam penjelasan teoritis. Seperti tercermin dalam perdebatan selama diskusi, antropologi Jerman -- yang lebih sering disebut "etnologi" daripada "antropologi" -- lebih mementingkan fakta sosial daripada representasi ataupun konstruksi fakta itu sendiri. Ini barangkali warisan Max Weber dalam tradisi ilmu sosial Jerman. Bagi Weber, tugas analis sosial adalah menjelaskan bentuk fakta sosial, bukan bagaimana proses terbentuknya fakta sosial itu, seperti yang sering ditonjolkan dalam pandangan antropologi kritis. Saya tidak mengatakan pandangan mana yang lebih baik. Lain ladang lain belalang. Kebetulan saja saya lebih dapat menikmati ceramah Smith dan Bensa dibandingkan dengan teman-teman antropolog yang dibesarkan dalam tradisi pemikiran ilmu sosial Jerman.
Tulisan ini pernah saya muat di "Crossroads" ( http://fithufail.wordpress.com), blog antropologi saya, lebih setahun yang lalu... ****** When the revolutionary youths gathered in 1928 and took a Youth Oath (Sumpah Pemuda), under the nervous gaze of the Dutch colonial government, they never imagined that the event would later stand to be the political foundation of the Indonesian nation and nationhood. The occasion was less than a heroic one, only hundreds people came to represent youth groups from all over the archipelago, still called the Netherlands Dutch Indies. There were Jong Sumatranen Bond (Sumatra Youth Group), Jong Ambon (Ambonese Youths), Jong Sulawesi (Sulawesi Youths), and many more groups acting on behalf of youth organizations. The event was called Kongres Pemuda (Youth Congress). It was the time when Wage Rudolf Supratman sang Indonisch, Indonisch, a melancholic song that would later be converted into Indonesia Raya, the national anthem of Indonesia. Kongres Pemuda lingers on the national memory, commemorated every October 28 as Hari Sumpah Pemuda (the Youth Oath Day). Indonesians must remember the date, October 28, 1928, as the historic moment when Indonesian nationhood came into being, embodied in words of the youth oath that pledges allegiance to One Nation, One Fatherland, One Language called “Indonesia.” Indonesians find the root of their national-self on the Youth Oath. The self has stayed unwavering from the moment when the pledge was read to the moment when the nation faces the challenge of global capital forces. The self is Negara Kesatuan Indonesia (United Indonesia). History textbooks praise Kongres Pemuda to be the earliest evidence of Indonesian multiculturalism. Teachers and politicians refer to Kongres Pemuda to illustrate how different ethnic and cultural groups can come together, transcend their primordial interests, and act as a national collective. The congress participants no longer pursued groups’ interests, but were engaged in a rational discussion that catered to a common interest, a kind of Habermasian rational discourse found in literary cafes in Europe. In other words, history teaches Indonesians to appreciate how the Indonesian multiculturalism has been constructed out of a rational assumption that one can put one’s ethnic and religious self below the common, national self. When the notion of multiculturalism is stripped off of its cultural imaginations and reduced to a procedural political process, it loses most of its complex cultural meanings. Multiculturalism is not merely a political construct, like what most theorists of multiculturalism argue, understood to work like a judicial ruling, but is a fantasized and desired, for some is even feared, lived world. A society becomes a multicultural society only when it seeks for a common denominator that could be used for the interest of all members, and not only for certain groups. The key words here are “seek” and “denominator”, as multiculturalism is no more than a tool that people appropriate and use to imagine what social collectivity they want to acheive. To build the notion of multiculturalism from a foundational principle, such as the national self, would risk to de-sensitize the concept from its most powerful pragmatic role. It opens up the space for people to come forward with their multiple affects. Multiculturalism is not the destination but a necessary lived world that allows fantasy and desire to emerge.
Harian Jawapos Online memuat berita yang saya kutip di bawah ini: Kamis, 24 Mei 2007, Presiden Kritik Peneliti LIPI
Hasil Riset Tak Bisa Jadi Solusi JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memprihatinkan banyaknya produk riset yang belum menyentuh kebutuhan publik. Karena itu, dia menantang para peneliti untuk menciptakan produk-produk yang bisa menghasilkan terobosan pemecahan persoalan masyarakat.
"Saya menginginkan para peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia), peneliti berbagai perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat untuk melakukan penelitian guna mengidentifikasi serta memecahkan berbagai persoalan masyarakat," katanya saat meresmikan gedung baru Herbarium Bogoriense di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, kemarin.
Karena itu, para peneliti juga harus sering turun ke masyarakat agar orientasi riset mereka terbangun untuk pemecahan problem di masyarakat. "Saya tunggu terus hasil riset atau penelitiannya," ujarnya.
Agak mengecewakan bila pernyataan ini datang dari seorang presiden. Ini artinya presiden tidak terlalu memahami tentang peran peneliti. Di pihak lain, pernyataan ini mencerminkan betapa "beratnya" beban seorang peneliti di Indonesia, dan menjadi contoh betapa kegiatan penelitian di negara ini selalu dibayangi oleh persoalan moralitas sosial. Di negara lain, dosen maupun peneliti tak pernah dibebani oleh ideologi pembangunan semacam ini, sehingga mereka bisa konsentrasi penuh pada kegiatan penemuan-penemuan dan kajian-kajian yang mendasar. Hasilnya, banyak terobosan teoritis yang pada akhirnya juga berujung pada manfaatnya bagi masyarakat secara keseluruhan. Max Weber dan Karl Marx misalnya, menulis magnum opus mereka tentang ekonomi dan masyarakat bukan karena desakan untuk menghasilkan ilmu yang bisa "dimanfaatkan" oleh masyarakat banyak. Tapi saat ini tak seorang pun dapat menolak fakta besarnya sumbangan teori Weber terhadap fungsi birokrasi misalnya. Peneliti itu tugasnya adalah mengkaji persoalan, bukan memecahkan persoalan. Yang ini adalah tugas teknokrat, birokrat, dan aktivis sosial. Apabila peneliti dipaksa untuk mengikuti logika pemikiran seperti ini, dunia penelitian Indonesia akan semakin terpuruk dan tak akan mampu berkompetisi dengan negara lain. Kajian-kajian akan minim inovasi teoritis, karena inovasi teoritis seringkali hasilnya tak dapat dirasakan oleh masyarakat dalam jangka pendek. Sebagai contoh, Max Planck Institute, tempat saya berkerja saat ini, tidak pernah mencantumkan satu pun keharusan bagi penelitinya untuk "memecahkan persoalan" yang ada di masyarakat. Tetapi, saat ini tak seorangpun meragukan sumbangan peneliti Max Planck misalnya di bidang astronomi, teknologi optik, dan jurisprudensi. Semua ini berasal dari kajian-kajian dasar di Max Planck yang kemudian dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga terapan seperti NASA, Siemens, dan sebagainya. Saya bisa ramalkan, apabila para peneliti di Indonesia selalu dibebani oleh moralitas sosial semacam yang dikemukakan presiden di atas itu, dunia penelitian di Indonesia justru akan kering dan tidak berkembang. Lebih parahnya, akan terjadi brain drain yang besar karena peneliti akan mencari tempat di mana mereka bisa mengembangkan minatnya secara maksimal tanpa dibebani "pesan-pesan moralis" semacam itu.
Tak terasa, kerusuhan Mei sudah berlalu 9 tahun yang lalu. Sampai saat ini, negara masih belum pula mampu (atau mau?) melanjutkan investigasi yang telah dimulai oleh Tim Gabungan Pencari Fakta, juga 9 tahun yang lalu. Kebutaan kita terhadap peristiwa itu diperparah dengan sedikitnya kajian serius dan mendalam dari sudut pandang sosiologis, antropologis, sejarah, dan ilmu politik. Sejauh ini, hanya dua buku yang mengulas peristiwa itu secara agak luas. Satu ditulis oleh Jemma Purdey, The Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996-1999 (U Hawai'i Press, 2006), dan satu lagi terdapat sebagai bab dalam buku John T. Sidel, Riots, Pogroms, Jihad: Religious Violence in Indonesia (Cornell, 2006). Di samping itu, ada juga beberapa esai ditulis oleh James Siegel, Karen Strassler, dan Ariel Heryanto.
Untuk mengingat peristiwa itu, saya masukkan di sini tulisan saya yang dimuat di harian Kompas, 12 Mei 2004. Meskipun sudah berusia 3 tahun, saya rasa beberapa hal dalam tulisan ini masih relevan untuk direnungkan kembali saat ini.
|
Refleksi Sejarah Antropologis Kerusuhan Mei 1998
Oleh Fadjar I Thufail
TAK ada perjalanan sejarah sebuah negara-bangsa yang tak lepas dari kekerasan. Kerusuhan Mei 1998 di Indonesia memberikan contoh betapa imajinasi tentang keutuhan dan masa depan sebuah negara sering kali dibangun di atas puing-puing bangunan dan ceceran darah. Sama sekali jauh dari bayangan ideal masyarakat imajiner yang pernah dirumuskan oleh Benedict Anderson dalam Imagined Communities (Verso, 1991).
Enam tahun telah berlalu sejak peristiwa mengerikan itu, dan belum banyak yang kita mengerti dan pelajari dari titik penting sejarah Republik itu. Seolah-olah memahami sejarah kegelapan sama halnya dengan menorehkan tinta hitam pada buku putih lembaran sejarah nasional kita, yang selama ini dituliskan dengan tinta emas peradaban, keagungan, dan kepahlawanan.
Enam tahun setelah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) merumuskan hasil temuan mereka, kerusuhan Mei tetap diselimuti awan tebal. Perbincangan hangat tentang provokator, jumlah korban pemerkosaan, peranan aparat keamanan, dan “pertemuan tanggal 14 Mei di Kostrad” seolah-olah menjadi kata kunci yang dapat membuka tabir peristiwa kerusuhan. Membaca Laporan Eksekutif TGPF-sayang sampai saat ini laporan asli tak pernah diterbitkan dan bahkan tak tahu di mana keberadaannya-kita digiring untuk “menikmati” sebuah teater kekerasan dengan plot, aktor, dan panggung yang saling bersinergi membentuk sebuah episode Kekerasan (dengan “K” besar) dalam rangkaian narasi besar politik nasional dan kebangsaan.
Teks TGPF memanggil kita (dalam pengertian Althusserian, interpellation) sebagai warga negara-bangsa, dan teks itu membentuk sebuah jendela yang sangat rasional untuk memahami carutmarut politik dalam ruang publik nasional. Dalam teks TGPF, dan dalam diskursus lain yang dibangun atas dasar laporan ini, kerusuhan Mei 1998 dimaknai sebagai sebuah peristiwa nasional sebagai sebuah episode perjalanan negara-bangsa ini.
AGAK mengherankan memang bila penelitian tentang Peristiwa Mei 1998 masih terlupakan. Enam tahun telah berlalu, tetapi tulisan mendalam yang berusaha memahami kompleksitas dimensi kultural dan sosial tragedi itu barangkali berjumlah tak lebih dari lima buah. Itu pun sebagian besar berupa karya disertasi peneliti asing. Karya anak bangsa sering terjebak ke dalam pengulangan-pengulangan yang, sayangnya, jadi sangat membosankan. Pembuktian tentang “provokator”, “pemerkosaan”, dan kaitan dengan tragedi Trisakti ditemukan dalam ruang narasi publik nasional, berdampingan dengan pembelaan dari para mantan tokoh militer dan politik tentang keterlibatan mereka dalam kekerasan itu.
Tayangan media, sebuah ritual tetap setahun sekali dalam bulan Mei, juga menawarkan citra visual yang cenderung sama dan belum menawarkan sebuah perspektif kritis, seperti yang seharusnya ditampilkan dalam sebuah investigative journalism. Kekeringan pendekatan kritis untuk memahami kerusuhan Mei 1998, yang tampak dalam rangkaian pengulangan metafor dan trope dalam narasi teks dan tayangan media, dapat menjadi tragedi tersendiri dalam penulisan sejarah bangsa ini. Haruskah kita menunggu sampai 30 tahun, seperti saat kita menunggu pengungkapan sejarah pembantaian 1965-66, untuk memunculkan suara-suara mereka yang dibungkam oleh kekerasan politik dan kekerasan representasional (representational violence) ini?
Barangkali terlalu heroik apabila kita berusaha mengerti tentang apa yang terjadi pada beberapa hari di bulan Mei 1998 itu. Memang, kita memerlukan sebuah sikap dan ketegaran untuk mengakui bahwa peristiwa sebesar ini tentu memiliki dampak penting dalam pergolakan politik nasional. Di lain pihak, sikap dan ketegaran yang sama juga diperlukan untuk mengakui bahwa setiap peristiwa kekerasan, termasuk kerusuhan Mei, adalah pembongkaran ruang eksistensi individual.
Peristiwa kekerasan menjadi penting bukan karena ia menentukan lalu lintas politik nasional, tetapi karena peristiwa itu membongkar dan merekonstruksi cara manusia memaknai dunia di sekelilingnya. Pemahaman rasional dan logis barangkali dapat menghasilkan pola, peta, dan logika kerusuhan, tetapi ia tak dapat menawarkan secercah sinar untuk menerangi liku-liku kompleksitas nilai yang manusia pakai untuk memaknai peristiwa kekerasan yang mereka hadapi.
Barangkali sikap kita selama ini terhadap kerusuhan Mei 1998 adalah cenderung memperlakukannya sebagai sebuah peristiwa sejarah yang disikapi secara logis. Kita menganggap peristiwa ini penting karena ia menjadi jendela terhadap sesuatu yang saya namakan the logic of the state, cara berfungsi dan bekerjanya sebuah negara dan perangkatnya. Membaca Laporan Eksekutif TGPF yang ditulis enam tahun lalu itu, kita merasakan bekerjanya sebuah kekuatan raksasa, entah itu bernama “negara” atau “militer”, di balik bayangan hiruk-pikuk massa di jalanan dan di balik punggung para pemerkosa.
JENDELA tekstual ini membuka celah bagi specter negara, sebuah agen kekerasan yang bagi Jaqcues Derrida dan James Siegel menghantui setiap kekerasan, tetapi tanpa perlu menampilkan dirinya dalam bentuk kekerasan. Selama ini, percakapan tentang kerusuhan Mei 1998 adalah perbincangan yang mencoba memberi warna dan bentuk terhadap specter ini. Dalam Laporan TGPF, misalnya, bentuk sang hantu ini ditampakkan dalam logika rasional yang menerangkan bagaimana kerusuhan bisa tersebar secara cepat ke pelosok Kota Jakarta. Seolah-olah kita dapat menyaksikan bekerjanya tangan-tangan hantu negara dan aparatnya. Mungkinkah ini bisa dipakai sebagai penjelasan kultural mengapa polisi tiba-tiba “menghilang” pada saat kerusuhan itu meledak?
Narasi sejarah tak mungkin menjadi narasi logis semata. Ruang percakapan tentang kerusuhan Mei tak semestinya terbebani dengan keharusan untuk menjadi ingatan monumental tentang negara. Sebuah subversi naratif diperlukan untuk penceritaan tentang kekerasan di Indonesia. Sejauh ini, kita harus berterima kasih pada inisiatif yang telah dilakukan oleh beberapa organisasi saat mereka berusaha membuka ruang percakapan bagi penceritaan pengalaman mereka yang terkena dampak kerusuhan.
Beberapa penerbitan memoar dan acara temu korban mengingatkan bahwa kerusuhan adalah pengalaman yang sangat individual, dan suara-suara ini memiliki hak yang sama untuk masuk dalam narasi sejarah dan narasi antropologis kekerasan di Indonesia. Bagi mereka, pengalaman kekerasan bukan semata-mata pengalaman politik seperti yang selalu diyakini selama ini oleh para analis kekerasan, tetapi juga pengalaman trauma sosial. Penolakan terhadap narasi politik kekerasan bukan berarti mengecilkan arti peristiwa itu, tetapi sebaliknya membukakan peristiwa itu kepada sebuah dimensi yang sangat bermakna, dimensi kemanusiaan dan keseharian.
Secara politik, enam tahun memang bermakna dalam. Ia merepresentasikan keengganan berlarut-larut untuk memasukkan peristiwa ini dalam panggung sejarah peradaban negara. Ia merepresentasikan sesuatu yang seolah-olah tak pernah ada, as if nothing happens, demikian kata antropolog John Pemberton. Akan tetapi, enam tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk melakukan refleksi, mempertimbangkan apa yang sudah kita lakukan dan apa yang masih harus dilakukan. Refleksi hanya mungkin apabila kebanggaan terhadap Sejarah (dengan “S” besar) dihadapkan secara kritis kepada kenyataan bahwa kekerasan, suka atau tidak, adalah sejarah (dengan “s” kecil) itu sendiri.
Kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah realitas sejarah yang menuntut kita agar lebih memahami subyektivitas kekerasan; kekerasan yang bermula dan berujung pada sikap, termasuk di dalam sikap terhadap penulisan sejarah kekerasan itu sendiri. |
Max Planck Institute for Social Anthropology (Max Planck Institut für ethnologische Forschung - MPI) adalah lembaga penelitian yang berada di bawah Max Planck Society (Max Planck Gesellschaft - MPG). MPG adalah lembaga penelitian terbesar di Jerman, memiliki lebih dari 80 pusat penelitian yang tersebar di seluruh Jerman. Sebagian besar lembaga penelitian tersebut bergerak di bidang penelitian sains dan teknologi. MPI adalah salah satu dari sekitar 10 lembaga penelitian yang bergerak di bidang penelitian sosial.
MPI didirikan pada tahun 1999. Sejak tahun 2000, MPI menempati kantor di kawasan pemukiman asri di Muhlweg, di sebelah utara kota Halle/Saale (di Halle ada 2 lembaga penelitian MPG selain MPI). Fokus penelitian MPI terbagi tiga, yaitu tentang konflik dan perubahan sosial, kajian masyarakat paska sosialisme di Eropa dan Asia Tengah, dan tentang antropologi hukum. Saya saat ini menjadi peneliti bidang kajian antropologi hukum.
MPI adalah lembaga internasional, dari sekitar 100an staf dan peneliti yang bekerja di sini, setengahnya adalah peneliti dari negara-negara di Eropa, Afrika, dan Asia. Antropolog Jerman yang bekerja di sini pun adalah spesialis tentang berbagai wilayah Asia, Eropa, dan Afrika. Sayangnya, kajian tentang kawasan Amerika Latin belum terwakili di MPI. Hasil penelitian MPI diterbitkan dalam bentuk publikasi umum atau kertas kerja (working paper).
Salah satu hal yang patut dikagumi dari lembaga MPI (dan barangkali juga seluruh lembaga yang bernaung di bawah MPG) adalah penghargaan mereka terhadap kegiatan penelitian. MPI didukung oleh support staff yang sangat profesional dan paham seluk beluk tentang kegiatan penelitian. Dari staf administrasi sampai staf teknologi informasi semuanya berfungsi sebagai professional support system yang mempermudah kegiatan staf peneliti. Bandingkan misalnya dengan staf LIPI atau Litbang Departemen di Indonesia yang jarang paham tentang esensi penelitian, dan sering justru menjadi bagian dari kerumitan birokrasi yang menghambat kegiatan penelitian.
Untuk info selanjutnya tentang Max Planck Institute for Social Anthropology silahkan klik di sini
Ternyata tepat tanggal 20 April, 8 tahun lalu, tepatnya tahun 1999, persis terjadinya tragedi penembakan di Columbine High School, di negara bagian Colorado. Saat itu, dengan menggunakan 2 pistol kaliber 9 mm dan 2 senjata laras panjang, Eric Harris dan Dylan Klebold membunuh 13 murid Columbine High School. Columbine tercatat sebagai kasus penembakan masal terbesar ketiga di Amerika setelah pembantaian di Virginia Tech baru- baru ini (33 korban), dan penembakan di University of Texas-Austin pada 1966 (31 korban). Apakah Cho, pelaku penembakan Virginia Tech, terinspirasi oleh Columbine, sehingga ia memilih tanggal yang nyaris mirip.. wallahualam.. hanya dia sendiri yang tahu. Tetapi, ada fakta bahwa Cho memang sempat menyebut Eric dan Dylan sebagai "martir".
Kebetulan yang lebih menyeramkan lagi, pada tanggal yang sama, 20 April 1889, Adolf Hitler dilahirkan. Hitler juga memiliki masa kecil yang tak menyenangkan. Ayahnya, Alois Hitler, dilahirkan tanpa pernah tahu siapa bapaknya (beberapa orang berspekulasi bahwa kakek Hitler adalah soerang Yahudi). Hitler muda juga sering mengalami kegagalan dalam hidupnya, antara lain ia pernah ditolak masuk sekolah seni di Vienna. Ahli sejarah pernah menggunakan pendekatan psikologis semacam ini untuk memahami bagaimana Hitler bisa berkembang sebagai diktator dan tiran yang membenci Yahudi dan mengagungkan kejayaan masa lalu Jerman.
What a scarry April 20th!....
Hari ini CNN menurunkan informasi yang mengejutkan berkaitan dengan berita lanjutan peristiwa tragedi di Virginia Tech. Menurut CNN, jumlah senjata yang tersebar di pelosok dunia ini sebanyak 600 juta, dan ternyata dari jumlah itu, 200 juta lebih sedikit tercatat di... Amerika Serikat. Meskipun data ini masih bisa berubah, mengingat tak semua negara mencatat dengan tertib kepemilikan senjata, tetapi fakta bahwa perbandingan senjata dan jumlah penduduk di Amerika memiliki tingkat rasio yang sangat tinggi. Jumlah penduduk di Amerika menurut Biro Sensus Amerika yang tercatat pada tanggal 19 April 2007 adalah 301 juta. Jadi, rata-rata di antara tiap 1,5 orang di Amerika terdapat 1 buah senjata. Itu yang tercatat secara legal, belum yang ilegal. Bayangkan..!
Soal pembatasan kepemilikan senjata di Amerika memang selalu menjadi topik perdebatan yang sangat panas dan selalu menjadi komoditas politik. Usaha untuk membuat peraturan tentang pembatasan peredaran dan kepemilikan senjata selalu terbentur pada argumen bahwa the rights to bear arms adalah hak dasar yang dijamin konstitusi, sejajar dengan hak untuk berserikat dan hak menyampaikan pendapat secara bebas. Karena konstitusi dan amandemennya adalah sumber hukum tertinggi, maka masing-masing negara bagian (states) tidak boleh mengeluarkan peraturan yang bertentangan dengan konstitusi. Pengaturan senjata memang diperbolehkan (dalam bentuk pencatatan, dsb), tapi pembatasan tidak boleh karena itu berarti memasung the rights (of people) to bear arms.
Salah satu sponsor terkuat yang mendukung argumen the rights to bear arms adalah US National Rifle Association (NRA), organisasi yang menampung peminat olahraga menembak dan berburu. NRA ini memiliki lobi politik tingkat tinggi karena anggotanya termasuk pejabat militer tingkat tinggi, tokoh politik yang dekat dengan Senat, Kongres, dan Gedung Putih, pelaku bisnis terkemuka, serta artis Hollywood. Charlton Heston tercatat sebagai salah satu aktivis garis keras NRA. Dengan lobi politik semacam itu, NRA berhasil menghentikan usaha untuk melakukan amandemen terhadap konstitusi, terutama pada pasal the rights to bear arms itu. Siapa pun yang pernah menonton film Michael Moore, Bowling for Columbine, tentu pernah melihat betapa gigihnya NRA menyangkal bahwa organisasinya membuka peluang terhadap penyalahgunaan senjata di publik.
Sehubungan dengan tragedi Virginia Tech, NRA Website hanya memuat pernyataan beberapa baris ini:
"The National Rifle Association joins the entire country in expressing our deepest condolences to the families of Virginia Tech and everyone else affected by this horrible tragedy.
Our thoughts and prayers are with the families.
We will not have further comment until all the facts are known."
Cho Seung-Hui asal Korea Selatan sudah diidentifikasi sebagai pelaku penembakan massal di Virginia Tech. Cho adalah pemegang US green card, artinya ia adalah penduduk tetap di Amerika meskipun masih berkebangsaan Korea Selatan. Cho datang ke Amerika bersama kedua orang tuanya pada tahun 1992, saat ia berusia 8 tahun. Cho ikut tewas bersama 32 orang lain yang ditembaknya.
Segala kemungkinan memang dapat dikemukakan untuk menjawab kenapa Cho melakukan hal itu. Media telah mengajukan satu kemungkinan dengan menekankan faktor psikologis; Cho disebutnya sebagai orang yang loner (suka menyendiri) dan tertutup. Tapi penjelasan psikologi populer semacam ini tetap tidak dapat menjelaskan konteks pengaruh faktor apa saja yang memberi kesempatan kondisi kejiwaan itu (apabila benar) berkembang menjadi perilaku anti sosial (kekerasan). Berkaca pada pengalaman saya tinggal selama 12 tahun di berbagai wilayah Amerika, ada beberapa faktor yang bisa dikemukakan.
Pertama, sudah sejak dulu negara bagian Virginia tercatat sebagai negara bagian yang sangat "terbuka" terhadap kepemilikan senjata api. Dengan alasan bahwa Virginia terletak dekat ibukota, Washington DC, yang memiliki tingkat kriminalitas yang termasuk paling tinggi di Amerika, Virginia "mempermudah" kepemilikan senjata api untuk "perlindungan" pribadi warganya. Kemudahan ini lah yang memungkinkan Cho mendapatkan senjata api. Dengan hanya berbekal kartu green card, dia sudah boleh membeli senjata.
Kedua, penjelasan kultural. Kehidupan imigran di Amerika sebenarnya jauh dari menyenangkan, tak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang. Seringkali keluarga imigran terpaksa harus tinggal di wilayah pinggiran, dan dalam pekerjaan sehari-harinya mereka harus bersaing dengan sesama imigran lain. Keluarga Cho tinggal di wilayah pinggiran semacam ini, dan tidak mengherankan apabila mereka mungkin sering menerima perlakuan rasis dari sesama imigran dari negara-negara lain atau dari kaum putih kelas menengah-bawah. Kemungkinan ini ditunjukkan oleh catatan yang ditinggalkan Cho di kamar asramanya yang menghujat kaum kaya.
Ketiga, indikasi menarik yang dikemukakan analis CNN memperlihatkan bahwa Cho bersekolah di Westlife High School, sebuah sekolah yang ternyata "melahirkan" beberapa pelaku penembakan. Pertanyaan yang mungkin bisa dijadikan PR bagi sosiolog atau antropolog adalah mencoba memahami komunitas sekolah macam apa yang menghasilkan "alumnus-alumnus" semacam ini. Dalam kasus penembakan di Wisconsin misalnya, pelakunya mengatakan bahwa dia merasa marah karena sering diejek dan dihina oleh teman sekolahnya. Demikian pula halnya dengan penembakan di Springfield, Oregon. Bisa dibayangkan akibatnya apabila ejekan-ejekan semacam itu "diramu" dengan komentar-komentar yang bersifat rasialis.
Hari ini terjadi lagi tragedi penembakan sekolah di Amerika. Kali ini terjadi di Virginia Polytechnic Institute (Virginia Tech) di Richmond, negara bagian Virginia, yang letaknya tepat di pinggir Washington DC. Tragedi penembakan kali ini tercatat sebagai tragedi penembakan di areal sekolah yang terbesar. 33 orang meninggal, termasuk penembak yang sampai saat saya tulis ini identitasnya masih belum jelas.
Penembakan di areal sekolah tampaknya merupakan "copyrights" Amerika. Salah satu kejadian yang tragis adalah penembakan di sekolah Columbine di Colorado. Selain itu masih ada lagi di Springfield (Oregon), dan yang terakhir di negara bagian Wisconsin. Beberapa hari setelah kejadian penembakan di Wisconsin, saya sempat membahas soal ini dengan murid-murid saya di kelas undergraduate di University of Wisconsin-Madison. Saya ceritakan pada mereka betapa di negara lain dalam periode 25-30 tahun terakhir ini belum pernah terjadi kasus penembakan di sekolah seperti ini. Apa yang salah dengan masyarakat Amerika?
Salah satu penjelasan yang bisa diajukan terkait dengan soal pembatasan kepemilikan senjata (gun control) yang memang menjadi topik sangat sensitif di Amerika. Kemudahan akses terhadap senjata memang sangat menentukan peluang terjadinya kasus semacam ini. Tetapi, secara kultural, ada faktor lain yang menurut saya sangat penting, yaitu tersedianya berbagai macam role model yang mudah ditiru. "Kebiasaan" politik Amerika yang ingin menyelesaikan banyak hal dengan senjata membentuk role model yang mudah ditiru dalam skala yang lebih kecil. Ada indikasi bahwa tragedi ini mirip dengan kasus IPDN, meskipun dengan skala dan akibat yang berbeda. Memperlakukan kultur militer sebagai role model menimbulkan akibat publik yang sangat berbahaya, salah satunya adalah anggapan bahwa senjata dan perlakuan fisik bisa menyelesaikan masalah dengan cepat atau bisa dipakai sebagai sarana katarsis dalam situasi tekanan sosial yang berat.
So.. the time has come. I have said goodbye to Wisconsin and embraced my new life in Germany. Since March 2007, I have moved to Halle, a historic city in the state of Saxony-Anhalt (Sachsen-Anhalt), located in the former East German territory. Halle is a quiet city which lies between Berlin and Leipzig. From Leipzig, one could reach Halle by regional train, which takes only about 30 minutes ride. From Berlin, it takes 1 1/2 hour express train ride or 2 1/2 hour regional train ride to reach Halle.
I have accepted a position as a research fellow at Max Planck Institute for Social Anthropology in Halle, a prestigious German research institute under the auspices of Max Planck Society.
Recently I submitted a visa application to the Germany Consulate in Chicago. The application process was a success; I eventually received my visa. But, during the long and complicated process, I begun thinking the way how visa, apart from serving as an immigration document, structures political inequality, just like how capital works to structure economic inequality. I learned that American citizen is not required to apply a visa to visit European countries. The same situation happens when American citizen wants to come to most other countries, including Indonesia. On the contrary, Indonesian citizen are required to apply for a visa if they want to visit almost all countries, except Southeast Asian ones. It seems that the politics of visa application represents the inequal structure of sovereignty, in which Indonesia occupies the lower level without any diplomatic effort to challenge it.
 College football is the most interesting facet of American college life. To me, at first the sport looked ugly, unlike the soccer (English: Football) which I consider an artful sport, with its complicated game strategies and players' performances on the field. Coming to Rutgers and living in the US for the first time, I found it difficult to enjoy the sport, especially when the Scarlet Knight always lost to almost any opponent. But, my attitude toward the football changed when I came to Madison, WI, watching the Badgers with Rod Dayne made very impressive shows at UW's Camp Randall Stadium. The Badgers has completely opened up the interesting side of college football, a passionate college ritual that fascinates not only the students but the whole Wisconsin community. I definitely will miss this entertainment if I leave the country. A few days ago, the Badgers accepted the bid to play at Capital One Bowl. This is the second time they will go to Florida after completing a very impressive Big-10 Conference season (11 wins, only 1 lost to Michigan, the 2rd ranked team in the nation). Viva Badgers...!!
Over the last few weeks, America witnesses series of horrible school shootings. Two weeks ago, a gunman broke into a school in Colorado and shot a student before he killed himself. Then in Wisconsin, the state where I live, a male student brought guns to the school and sought to shoot his fellow students. But a janitor and a teacher confronted him to prevent the tragedy. Unfortunately, the teacher was shot point blank during the struggle and died a few hours later. Just two days ago, a milkman broke into an Amish school in Pennsylvania, rounded up several girls and shot them to death. Five Amish teenagers killed and the milkman took his own life. How can we explain the series of shootings in American schools? Some people will point out that the schools did not enforce security precautions. Some others will blame the culprits that for different reasons they were unable to go along with the rest of the society. Can we step beyond the families or the schools to situate the tragedy in much wider social contexts? Can we see them as an effect of cultural work that value the way of resolving disagreement through violent measures, that has taught people to act like a cowboy?
After a very long, long hiatus, this blog has been resuscitated. The
hot and humid summer in Madison seemed to have supressed my writing elan.
But the cool fall weather and the vibrant campus life animate my
writing passion. Madison is back to offer its charming life. The Union
Terrace sings, the State Street glistens with remodeled shops and
museums. Welcome back to my paths to the uncharted knowledge.
*Tuhan Sembilan Senti*
*Oleh Taufiq Ismail *
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannyaketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat juga merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter,pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang sambil merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbolamengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli 'hisap'.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi
itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokoklebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu
lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Sometimes Wisconsinites make a joke that we are blessed people. Unlike
other parts of the American continent, we do not have
four seasons, we only have two seasons that you can strech it into
a quasi-four seasons (summer, almost winter, winter, and after winter).
While the west coast people rarely see snow, and the east
coast people do not know what tornado siren is, Wisconsinites, and also
most part of the Midwest people, get it all. Our winter is awash with
white
fluffy particles and our summer is as hot as the Mexican border. Then,
amid the extremes, unsettled weather reigns. This week, the tornado
season
has just set in. Yesterday witnessed the first tornado touching down in
Wisconsin, and the National Weather Center has reported at least
eleven tornados have been spotted in Wisconsin sky. Although the
destruction they have caused is not as widespread as last year's
tornados, several houses and farms near the 15,000-people town of
Barneveld have been uprooted.
Fortunately, Madison sits beyond the probable location for a tornado
to develop. However, listening to the tornado sirens blaring loudly and
watching the bright sky quickly changes to dark clouds in a matter of
minutes are indeed a frightening experience.
| |